8 Januari 2012

HASIL KAJIAN BARU TEORI MODERNISASI

BAB IV
HASIL KAJIAN BARU TEORI MODERNISASI

TANGGAPAN TERHADAP KRITIK
          Pada akhr decade 1970-an, ketika tinggi tegangan perdebatan antar berbagai perspektif pokok pembangunan mulai menurun, hasil kajian baru teori modernisasi mulai menampakkan diri. Namun demikian, juga terdapat beberapa perbedaan yang cukup berarti antara hasil kajian teori modernisasi. Mereka melakukan otokritik, menyuarakan suara lantangnyake dalam kalangan mereka sendiri, dan yang lebih penting, mereka tidak segan-segan untuk menghilangkan berbagai asumsi yang kurang kurang sahih (valid) dari teori modernisasi klasik.
          Jika demikian halnya, maka hasil kajian baru ini, dalam batas-batas tertentu yang berarti, berbeda dengan teori modernisasi kalsik dalam beberapa landas pijak berikut ini. Pertama, hasil kajian baru teori modernisasi ini sengaja menghindar untuk memperlakukan nilai-nilai tradisional dan modern sebagai dua perangkat sistem nilai yang secara total bertolak belakang. Kedua,  secara metodologis, kajian baru ini juga berbeda. Hasil karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, tetapi lebih cendrung untuk memberikan perhatian yang seksama pada kasus-kasus nyata. Ketiga,  sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan analisa kasus nyata, hasil kajian baru teori modernisasi tidak lagi memiliki anggapan tentang gerak satu arah pembangunan yang menjadikan Barat sebagai satu-satunya model. Terakhir, hasil kajian baru teori modernisasi ini lebih memberikan perhatian pada faktor eksternal dibandingkan pada masa sebelumnya.

WONG : FAMILIISME DAN KEWIRASWASTAAN
          Hasil penelitian Wong ini dimulai dengan penyajjian kritik terhadap interpretasi para pakar teori modernisasi kalsik tentang pemahaman dan penafsiran pranata famili di Cina. Dalam literatur teori modernisasi klasik, pranata famili di Cina dilihatnya sebagai kekuatan dasyat tradisional yang menimbulkan nepotisme, merendahkan disiplin kerja, menghalangi proses seleksi tenaga kerja di pasar bebas, mengurangi insentif individual untuk investasi, menghalangi tmbuhnya proses berpikir rasional, dan merintangi tumbuhnya norma-norma bisnis universal.
          Menurut Wong, ada tiga karakteristik pokok dari etos usaha keluarga. Pertama, konsentrasi yang sangat tinggi dari proses pengambilan keputusan. Kedua, otonomi dihargai sangat tinggi, dan bekerja secara mandiri lebih disukai. Ketiga, usaha keluarga jarang berjangka panjang, dan selalu secara ajeg berada dalam posisi tidak stabil.
          Secara ringkas, Wong memberikan kritik terhadap para perums teori modernisasi yang kurang cukup memberikan perhatian pada peran positif pranata keluarga etnis Cina dalam mengembangkan pembangunan ekonomi.
         
DOVE : BUDAYA LOKAL DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA
Kerangka Teoritis
          Dove dengan tidak ragu-ragu menyatakan bahwa tradisional tidak harus berrarti terbelakang. Jika demikian halnya, bagi Dove budaya tradisional selalu mengalami perubahan yang dinamis, dan oleh karena itu budaya tradisional tidak mengganggu proses pembangunan.
          Sikap negative terhadap budaya tradisional yang dimiliki oleh sebagian besar ilmuan sosial dan pelaksana pembangunan Indonesia ini terjadi juga sebagai akibat dari kurang atau bahkan tidak adanya budaya ilmiah yang tinggi di kalangan para peneliti. Setelah menyampaikan pandangan yang salah yang dimiliki oleh sebagian besar agen pembangunan di Indonesia terhadap budaya tradisionalnya, Dove dan kawan-kawannya mencoba melaporkan hasil kajiannya tentang kaitan antara berbagai budaya tradisional Indonesia dengan pembangunan.

Agama Tradisional
          Sistem kepercayaan tradisional Indonesia ini memiliki bobot yang cukup untuk disebut sebagai agama, dan secara empiris, sistem kepercayaan tradisional ini mengandung sistem ilmu pengetahuan tentang dunia yang valid. Bagi penduduk Wana, agama tradisional yang selaa ini telah dianut merupakan agama yang superior disbanding agama lainnya.

Ekonomi
          Sikap negatif pememrintah Indonesia tidak hanya terlihat pada pandangannya tentang sistem kepercayaan tradisional, tetapi juga pada penialiannya terhadap sistem ekonomi tradisional. Misalnya apa yang disebut dengan pertanian lading, usaha mengumpulkan sagu, dan usaha bertani berpindah-pindah.


Lingkungan Hidup 
          Peran nilai-nilai tradisional dalam menjaga lingkungan hidup dan mendorong penggunaan sumber daya alam secara terjaga kurang mendapat perhatian pemerinah. Untuk keperluan ini, pemerintah nampaknya lebih cenderung untuk merumuskan dan menerapkan peraturan baru. Bahkan tidak jarang pemerintah berpikir, bahwa petani pedesaan atau suku-suku terasing di luar Jawa berperan banyak terhadap rusaknya lingkungan hidup di sekitarnya.

Budaya Tradisional dan Perubahan Sosial
Masyarakat tardisional Indonesia pada dasarnya juga memiliki ciri yang dinamis. Masyarakat tradisional tersebut selalu mengalami perubahan sosial yang terus menerus, sesuai dengan tantangan internal dan kekuatan eksternal yang mempengaruhinya. Menurut penelitian ini, penduduk Wana telah mengembangkan kesadaran beragamabaru dari agama tradisional yang dipeluknya, setelah sering menerima kritik dari luar.
Secara ringkas, penelitian Dove dan kawan-kawannya ini secara cermat hendak menunjukkan, bahwa budaya tradisional tidak harus ditafsirkan sebagai faktor penghambat pembangunan. Bahkan, dalam batas-batas tertent, budaya tradisional dilihatnya dapat bebrperan positif untuk mendorong laju modernisasi.

DAVIS : REVISI KAJIAN AGAMA JEPANG DAN TEORI BARIKADE
Teori Lintang Gawang
          Menurut Davis, Weber telah menawarka teori lintas  gawang, yakni teori yang menyatakan, bahwa pembangunan merupakan seperangkat rintangan panjang yang melintang sejak garis permulaan ( masyarakat tardisional ) sampai garis terakhir ( masyarakat modern ). Dalam lomba ini, peserta lomba ( negara berkembang ) yang berhasil mengatasi segala rintangan hendak diberi ganjaran berupa julukan sebagai masyarakat modern dan rasional.
          Rintangan lintas gawang yang perlu dilewati ini terdiri atas brbagai macam. Pertama, peserta lomba hendaknya mampu menghilangkan rintangan ekonomis jika hendak mencapai karakteristik dasar kapitalisme. Kedua, peserta lomba juga diharapkan memapu mengatasi gawang rintangan sosial politik. Ketiga,  peserta lomba juga dihadapkan pada gawang rintangan psikologi.

Teori Barikade
          Davis menawarkan satu argumentasi dari sudut pandang yang berbeda, yakni dari sudut pandang tradisionalisme- bagaimana masyarakat tradisional menyiapkan barikade untuk melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan gangguan yang ditimbulkan oleh berkembangnya nilai-nilai kapitalisme. Apa yang sesungguhnya ditakuti oleh masyarakat tradisional bukan kemajuan dan modenisasi itu sendiri, tetapi lebih pada kerusuhan sosial dan kekejian moral yang timbul sebagai akibat dari tiadanya batas berkembangnya tata niaga perdagangan dan kapitaisme itu sendiri.

Penulisan Kembali Sejarah Agama di Jepang
          Davis berpendapat, bahwa agama di Jepang sama sekali tidak menghalangi adanya perubahan karena berbagai alasan berikut ini. Pertama, menurut ajaran Budha, agama sama sekali tidak berusaha dan tidak berbuat sesuatu untuk mencegah pembangunan yang amat cepat di pedesaan Jepang. Kedua, karena Shinto tidak memiliki perwalian gereja yang universal untuk mengawasi secara cermat pelaksanaan ajaran-ajarannya, Shinto lebih mudah lagi untuk mengizinkan berlakuknya proses modernisasi. Ketiga, karena adanya kehidupan koeksistensi tiga agama, Konfusius, Budhisme, dan Shnto, maka mudah dipahami jika di Jepang dapat ditemukan derajat toleransi antaragama sangat tinggi. Keempat, urbanisasi di Jepang telah mempengaruhi proses sekularisasi agama-agama, yang pada gilirannya menyebabkan adanya penghargaan dan spirit yang tinggi pada kehidupan dunia ini, khususnya pada kaum pedagang perkotaan dan cendikiawan Konfusianisme. Kelima, bahwa agama-agama baru yang banyak muncul setelah Perang Dunia II, yang biasanya didirikan oleh pemimpin kharismatik yang diikuti oleh banyak pengikut, telah mampu menumguhkan berbagai perlengkapan keagamaan baru pada lapisan masyarakat yang juga memeluk agama Shinto, Budha, Nasrani, dan Konfusius. Terakhir, dengan mengamati tumbuhnya kembali agama-agama rakyat, Davis menyatakan bahwa kegaiban dan keajaiban sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip “rasionalitas” pada masyarakat industri modern.

HUNTINGTON : DEMOKRASI DI NEGARA DUNIA  KETIGA
          Di tahun 1960-an, Lipset secara optimis menyampaikan gagasannya tentang keterkaitan positif antara pembangunan ekonomi dan demokrasi. Semakin maju satu negara, secara ekonomis, semakin besar peluang yang dimilikinya untuk menumbuhkan dan menegakkan tatanan politik yang demokratis. Di tahun 1970-an, ketika banyak pemerintahan demokratis tumbang, peneliti yang menganut teori modernisasi mulai merasa pesimis terhadap masa depan demokrasi politik di negara Dunia Ketiga. Namun di tahun 1980-an, masa depan pembangunan demokrasi politik Nampak cerah kembali, dan oleh karena itu kecendrungan untuk menguji masa transisi bangkitnya pembangunan demokrasi muncul ke permukaan.

Prakondisi Demokrasi
          Dalam mencoba melakukan rekonsiliasi dari fakta-fakta yang seakan-akan bertentangan satu sama lain, Huntington mengajukan konsep tentang wilayah transisi. Jika satu negara telah berkembang secara ekkonomis, maka negara tersebut secara perlahan bergerak ke wilayah transisi yang mulai terlihat, bahwa pranata politik tradisional semakin sulit untuk dipertahankan. Dalam situasi yang demikian, tidak dapat diketahui dengan pasti sistem politik apa yang hendak menggantikan pranata politik tradisional yang mulai goyah tersebut. Menurut Huntington, situasi ini tidak harus otomatis menjadikan terbukanya peluang untuk berkembangnya demokrasi ala Barat.
          Unsur pokok lain dalam struktur sosial mendorong tumbuhnya demokrasi dapat dilihat pada ada tidaknya wujud sistem ekonomi pasar. Semua pranata demokrasi politik memiliki sistem ekonomi pasar, sekalipun tidak semua sistem eknomi cocok berpasangan dengan sistem politik demokratis. Dalam hal ini, Huntington secara rigkas menyatakan, bahwa demokratisasi lebih merupakan proses difusi disbanding sebagai akibat pembangunan, yang sebagian besar tumbuh karena pengaruh Inggris dan Amerika Serikat melalui proses pendudukan, pemerintah kolonial, kalah dalam perng, atau karena pemaksaan secara langsung.
          Secara ringkas, Huntington menyimpulkan bahwa prakondisi yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya demokrasi terletak pada ada tidaknya kemakmuran ekonomi, struktur sosial yang pluralistic, pengaruh relative masyarakat terhadap negara, dan budaya yang toleran dan kompromis.

Proses Demokratisasi  
          Huntington membahasa tiga model utama proses demokkratisasi. Pertama,  yaitu model linier, yang dirumuskannya dari pengujian proses munculnya demokrasi di Inggris dan Swedia. Di swedia demokratisasi memiliki arah perkembangan yang berbeda. Proses perubahan menuju demokrasi di Swedia dimulai dari munculnya rasa persatuan dan kesatuan nasional, kemudian diikuti oleh perjuangan politik yang panjang dan tanpa kepastian, dan barulah kemudian muncul konsenseus nasional untuk menerapkan tata politik demokratis dan akhirnya secara sungguh-sungguh dan konsisten berusaha untuk menjalankan pemerintahan dalam tata aturan demokrasi yang telah disepakati tersebut. Kedua,  model siklus, yakni model yang menunjukkan adanya pergantian seara teratur dari munculnya demokrasi dan despotisme. Model ini nampaknya merupakan model yang paling sering dijumpai di Amerika Latin. Dalam model ini, nampaknya elite masyarakat yang memegang kunci pengambilan keputusan politik menerima dan sepakat untuk menerapkan sistem politik demokratis. Ketiga, model dialektis, pada model ini kelas menengah diperkkotaan yang semakin besar dan semakin berkualitas telah mendesakkan kepentingan politiknya kepada pemerintahan yang otoriter untuk mulai terlibat dalam partisipasi politik dan pembagian kekuasaan.

TEORI MODERNISASI BARU
Kembali ke Peran Nilai Tradisionil
          Dalam kasus Indonesia, Dove dan kawan-kawan melihat bahwa budaya tradisional merupakan sesuatu yang dinamis dan selalu mengalami perubahan, dan leh karena itu, ia tidak melihat bahwa budaya tradisional bertentangan dengan pembangunan.

Kembali ke Sejarah
          Teori modernisasi baru membawa kembali peran analisa sejarah, dan oleh karena itu lebih memberikan perhatian pada keunikan dari setiap kasus pembangunan yang dianalisa. Teori modernisasi baru ini tidak lagi menggunakan kasus untuk menjelaskan dan mendukung keabsahan teori, tetapi hasil kajian teori modernisasi baru ini menggunakan teorinya untuk menjelaskan masing-masing kasus yang dipelajari.  Huntington juga menekankan pentingnya menganalisa proses sejarah dan  tahapan yang dilalui oleh pembangunan demokrasi.

Analisa Mutakhir
          Teori modernisasi baru secara sadar menghindari untuk menyajikan analisa dan pernyataan yang simplisistik, dan mengandalkan analisa pada satu variabel. Perhatiannya lebih ditujukan  untuk mengamati dan menganalisa secara serentak dan  simultan terhadap berbagai pranata social yang ada ( sosial, budaya, ekonomi, dan politik ), berbagai kemungkinan arah pembangunan, dan interaksi antara faktor internal dan eksternal.
          Dengan berbagai perubahan yang telah disebutkan tersebut, nampaknya teori modernisasi telah bangkit kembali dari krisis yang dihadapi di akkhir dekade 1960-an. Jika demikan halnya, tidak berlebihan jika pada teori modernisasi baru digantungkan harapan, sekalipun tidak besar, untuk tumbuhnya berbagai karya penelitian yang canggih untuk dekade 1990-an.
          Teori depedensi ini segera menyebar dengan cepat ke belahan Amerika tara pada akhir tahun 1960-an

1 komentar:

  1. Penjelasan yang sangat bagus.
    Saran : kalau bisa sertakan daftar pustaka, sehingga pembaca mendapat tambahan data, Tks.

    BalasHapus

Apa komentar anda tentang blog ini?