22 Desember 2012

TANTANGAN GURU ABAD 21



TANTANGAN GURU ABAD 21
Oleh : Heriyanto

Abad 21 bisa dikatakan sebagai abad yang kritis dalam sejarah hidup manusia. Pada abad 21 ini, yang sering disebut abad globalisasi, setiap perubahan sangat jelas terlihat di segala bidang kehidupann. Perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa di segala bidang, terutama bidang teknologi dan informasi membuat dunia ini semakin sempit. Karena kecanggihan  teknologi, beragam informasi dari berbagai sudut dunia  mampu diakses dengan instant dan cepat oleh siapapun dan dari manapun. Namun demikian, pada abad 21 ini permasalahan yang dihadapi manusia semakin rumit. Permasalah yang timbul akibat dari perkembangan zaman antara lain  krisis ekonomi global, pemanasan global, terorisme, rasisme, drug abuse, trafficking, masih rendahnya kesadaran berbudaya, kesenjangan mutu pendidikan antar kawasan  dan lain sebagainya. Setiap masalah  tersebut membutuhkan pemecahan  yang harus dilakukan masyarakat secara bersama sama.

Untuk memecahkan masalah tersebut di atas, manusia dituntut mampu untuk membaca setiap tantangan yang ada pada masa kini. Manusia harus mampu untuk mencari sendiri pemecahan masalah yang timbul dari dampak kemajuan zaman karena tidak semua kemajuan zaman berdampak baik, dampak negatif juga harus diperhitungkan. Manusia harus tangguh dan mampu untuk berkompetensi untuk menghadapi tantangan itu. Untuk menciptakan manusia yang mampu berkompetensi untuk menghadapi kemajuan zaman, diperlukan lembaga pendidikan, tempat di mana guru memainkan peranan yang sangat vital. Guru sangat berperan dalam membentuk dan menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan memiliki kompetensi yang tinggi.
Menurut Susanto (2010), terdapat 7 tantangan guru di abad 21, yaitu:
(1)    Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.
(2)    Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep)
(3)    Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif
(4)    Teaching and technology, mengajar dan teknologi
(5)    Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan
(6)    Teaching and choice, mengajar dan pilihan
(7)    Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.

Lebih lanjut, Yahya (2010) menambahkan tantangan guru di Abad 21 yaitu:
(1)    Pendidikan yang berfokus pada character building
(2)    Pendidikan yang peduli perubahan iklim
(3)    Enterprenual mindset
(4)    Membangun learning community
(5)    Kekuatan bersaing bukan lagi kepandaian tetapi kreativitas dan kecerdasan bertindak (hard skills- soft skills)

Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat, (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik, (3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan, (4) dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan fokus pendidikan nilai, (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat teknologi, budaya, dan komputer, (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam tim kerja, (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. Dengan memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif.
Menghadapi tantangan demikian, diperlukan guru yang benar-benar profesional. Tilaar (1998) memberikan empat ciri utama agar seorang guru terkelompok ke dalam guru yang profesional. Masing-masing adalah:
1.      Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang;
2.      Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik;
3.      Memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat; dan
4.      Sikap profesionalnya berkembang secara berkesinambungan.
Selain itu, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Secara langsung Undang-Undang juga telah mengamanatkan bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk menghadapi tantangannya.

Dengan memerhatikan pernyataan para ahli di atas, tantangan utama guru pada abad 21 tidak lebih pada mengatasi dampak teknologi dan globalisasi yang sangat pesat. Dampak dari perkembangan teknologi tidak hanya berimbas pada ilmu pengetahuan saja, namun lebih jauh teknologi juga memengaruhi sosial budaya seseorang. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini, di Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan (modernisasi).
Merupakan suatu tugas yang sangat berat bagi seorang guru untuk mampu mempertahankan nilai-nilai sosial budaya pada peserta didiknya. Dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi dan globalisasi sudah mulai mengikis budaya ketimuran pada siswa. Akibatnnya tidak main-main, kemerosotan moral adalah salah satunya. Guru adalah orang yang bertanggung jawab atas peningkatan moral pelajar dan juga kemerosotannya. Untuk itu tugas guru tidak terbatas pada pengajaran mata pelajaran, tapi yang paling penting adalah pencetakan karakter. Tantangan persoalan ini memang sangat sulit bagi seorang guru karena keterbatasan kontrolling pada murid kerap membuatnya kecolongan.
Disamping itu, dalam menghadapi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknoligi serta era globalisasi, guru dituntut meningkatkan profesionalitasnya sebagai pengajar dan pendidik. Dengan demikian kualitas mutu pendidikan harus sangat diperhatikan oleh para guru untuk menyelamatkan profesinya. Untuk itu, dalam peningkatan kualitas pengajaran, guru harus bisa mengembangun intelegensi dasar siswa yaitu intelektual, emosional, dan moral. Tiga unsur itu harus ditanamkan pada diri murid sekuat-kuatnya pada diri seorang. Pembelajaran yang kreatif dan inovatif juga menjadi penting bagi guru, sehingga dapat megembangkan seluruh potensi diri siswa, dan memunculkan keinginan bagi siswa untuk maju yang diikuti ketertarikan untuk menemukan hal-hal baru pada bidang yang diminati melalui belajar mandiri yang kuat. Dengan perkembangan bidang teknologi informasi semakin mendorong dalam kemajuan bidang ilmu pengetahuan, sehingga dunia pendidikan harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin.
Jauh dari pada itu, selain pentingya pendidikan moral, peningkatan iman dan takwa pada diri siswa juga sangat perlu, untuk itu diperlukan bimbingan pendidikan agama dari seorang guru, khususnya guru pendidikan agama di sekolah. Kekuatan iman dan takwa yang mantap akan menjadi penangkal yang kuat dari dampak negatif globalisasi. Tanpa iman dan takwa yang kuat, manusia akan mudah terjerumus ke dalam buruknya era globalisasi. Landasan iman dan takwa yang kuat dapat dibagun di lingkungan sekolah melalui pendidikan agama. Dengan memberikan penguatan iman kepada siswa, diharapkan agar siswa dapat mengatasi permasalahan global yang berkaitan dengan iman seseorang, karena banyak sekali dampak buruk era globalisasi yang menguji kekuatan iman seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa dalam rangka menghadapi tantangan pada abad 21 ini, setiap guru hendaknya memiliki kemampuan dan profesionalisme yang tinggi. Tantangan yang dihadapi guru pada abad 21 tidak lagi berkisar pada kemampuan akademik siswa, tetapi lebih pada pendidikan intelektual, emosional, moral dan akhlak siswa. Era globalisasi menuntut persaingan tinggi tanpa terkecuali bagi seluruh manusia. Tidak ada pilihan lain kecuali harus menghadapi abad yang seba kompleks ini. Setiap guru harus memiliki kompetensi sebagaimana yang telah diamanatkan di dalam Undang-Undang serta tuntutan zaman yang mengharuskan setiap guru untuk memilikinya. Dengan memiliki kompetensi dan profesionalisme yang tinggi, dengan demikian setiap tantangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran akan dapat dihadapi serta dapat menyiapkan sumber daya manusia yang tangguh dan kompetitif.

1 komentar:

  1. sangat bagus pak,..klo bisa disertakan referensinya pak...tks

    BalasHapus

Apa komentar anda tentang blog ini?